Ketegangan di Kabupaten Asmat, Papua Selatan, mencapai puncaknya pada Sabtu, 27 September 2025, setelah insiden penembakan yang menewaskan seorang warga sipil oleh oknum anggota TNI. Peristiwa tragis ini bermula di Distrik Agats sekitar pukul 07.45 WIT, ketika seorang pria yang diidentifikasi sebagai Iranius (29 tahun), sedang dalam kondisi mabuk dan mengamuk. Korban dilaporkan telah membahayakan serta melukai dua warga sipil lainnya dengan tombak. Upaya penenangan yang dilakukan oleh prajurit TNI dari Satgas Yonif 123/Rajawali justru berujung fatal, memicu eskalasi ketegangan yang tak terhindarkan.
Menurut keterangan resmi yang disampaikan oleh Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Candra Kurniawan, prajurit yang berada di lokasi berupaya meredam amukan korban. Namun, alih-alih merespons, Iranius justru mengalihkan serangannya kepada anggota Satgas. Dalam situasi yang diklaim sebagai kondisi terdesak, anggota TNI tersebut melepaskan tembakan peringatan. Naas, tembakan itu disinyalir mengenai korban hingga menyebabkannya meninggal dunia di tempat akibat luka tembak. Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RSUD Agats untuk proses lebih lanjut.
Kabar penembakan maut tersebut menyebar dengan cepat dan memicu amarah ratusan warga. Pada siang harinya, massa yang dipenuhi emosi bergerak menuju Pos Satgas Yonif 123/Rajawali yang berlokasi di Jalan Pemda, Distrik Agats. Aksi massa yang tidak terkendali ini berujung pada penyerangan, perusakan, dan bahkan pembakaran Pos Satgas tersebut hingga nyaris rata dengan tanah. Tidak hanya pos militer yang menjadi sasaran amuk massa, bangunan di sekitar Pos, termasuk sebuah taman kanak-kanak, turut dirusak. Laporan juga menyebutkan adanya penjarahan di kios-kios dan konter telepon seluler di pusat Kota Agats, menambah daftar kerugian materiil akibat kericuhan tersebut. Bahkan, sebuah mobil ambulans milik RSUD Agats dilaporkan dirusak oleh massa.
Peristiwa ini segera memunculkan eskalasi ketegangan yang serius antara aparat keamanan dan masyarakat. Pihak TNI-Polri bergerak cepat dengan menerjunkan personel tambahan ke lokasi kejadian, berupaya meredam emosi warga dan mencegah konflik yang lebih luas. Upaya meredakan situasi juga melibatkan tokoh adat dan tokoh agama setempat yang berperan sebagai mediator. Kapendam Candra Kurniawan menegaskan bahwa pihak TNI akan melakukan penelusuran mendalam terkait kronologi lengkap kasus penembakan ini. Jika terbukti ada pelanggaran prosedur yang dilakukan oleh oknum prajurit, maka tindakan hukum yang tegas akan diterapkan. Hingga Minggu pagi, 28 September 2025, situasi di Agats perlahan mulai terkendali, meskipun suasana eskalasi ketegangan masih terasa.
Tragedi di Asmat ini tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menyoroti pentingnya penegakan prosedur dalam penggunaan senjata api oleh aparat, terutama saat berhadapan dengan warga sipil. Kasus ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah, aparat keamanan, dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama membangun kembali kepercayaan dan merajut kerukunan demi stabilitas di Bumi Cenderawasih.