Aketajawe Lolobata memiliki sejarah panjang terkait dengan keberadaan masyarakat adat, khususnya Suku Togutil atau Tobelo Dalam, yang merupakan kelompok semi-nomaden. Kehidupan mereka yang selaras dengan hutan dan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam secara tradisional telah menjadi bagian integral dari ekosistem taman nasional. Pelestarian budaya mereka juga menjadi bagian dari upaya konservasi, menunjukkan bagaimana manusia dan alam dapat hidup berdampingan.
Masyarakat adat Togutil dikenal dengan pengetahuan tradisional mereka yang mendalam tentang hutan. Mereka tahu persis di mana mencari bahan makanan, obat-obatan, dan kayu untuk kebutuhan sehari-hari tanpa merusak keseimbangan alam. Pengetahuan ini diwariskan turun-temurun, menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya kelangsungan hidup di tengah lingkungan hutan yang lebat, sebuah kearifan lokal yang luar biasa.
Keberadaan masyarakat adat di dalam kawasan Aketajawe Lolobata adalah contoh nyata bagaimana aktivitas manusia dapat selaras dengan alam. Mereka tidak hanya mengambil, tetapi juga menjaga. Praktik berburu dan meramu yang dilakukan secara tradisional bersifat selektif dan berkelanjutan, memastikan sumber daya alam tidak dieksploitasi berlebihan. Ini adalah pelajaran berharga tentang konservasi dari perspektif lokal.
Pelestarian budaya masyarakat adat Togutil juga menjadi bagian dari tujuan utama pembentukan Taman Nasional ini. Melindungi mereka berarti melindungi pengetahuan dan praktik yang telah menjaga hutan selama berabad-abad. Oleh karena itu, pemerintah dan pengelola taman nasional berupaya memastikan hak-hak mereka diakui dan kesejahteraan mereka terjamin, demi keadilan sosial dan lingkungan.
Gagasan awal konservasi di Aketajawe Lolobata tentu saja mempertimbangkan keberadaan masyarakat adat ini. Meskipun kadang terjadi konflik kepentingan, dialog dan pendekatan partisipatif terus dilakukan. Tujuannya adalah untuk menemukan titik temu antara kebutuhan konservasi dan hak-hak tradisional masyarakat, menciptakan solusi yang adil dan berkelanjutan untuk semua pihak.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan pihak pengelola Taman Nasional aktif melibatkan masyarakat adat dalam program-program konservasi. Mereka diajak berpartisipasi dalam patroli hutan, monitoring satwa liar, dan pengembangan ekowisata berbasis komunitas. Kolaborasi ini tidak hanya memberdayakan masyarakat, tetapi juga meningkatkan efektivitas upaya perlindungan alam yang telah direncanakan.
Ekowisata di Taman Nasional Aketajawe Lolobata juga menawarkan kesempatan bagi wisatawan untuk belajar langsung dari masyarakat adat. Pengunjung dapat mengenal budaya, tradisi, dan cara hidup mereka. Ini adalah Petualangan Impian yang tak hanya menikmati alam, tetapi juga memahami dimensi sosial dan budaya dari konservasi, memberikan pengalaman yang lebih kaya dan bermakna.